Rabu, 10 Juli 2013

pesawat kepresidenan seharga rp 6 miliyar lebih ditengah2 himpitan ekonomi rakyat. PANTASKAH ?????

Hati nurani para petinggi bangsa ini mungkin memang sudah dibutakan oleh nafsu. Bayangkan saja ditengah2 kesulitan ekonomi rakyatnya yg kiat menjerat leher, tpi para petinggi bangsa ini mash juga tidak dpt tersentuh hatinya, dan masih saja mengumbar keegoisan mereka. Dengan membeli sebuah pesawat kepresidenan seharga 6 miliyar rupiah. Dengan kesejahteraan rakyat yg menjadi taruhannya. Menyandang predikat negara miskin berkembang tidak membuat para petinggi negeri ini sadar akan keadaan bangsanya yg masih melarat.
Kemiskinan dimana2 pengangguran menjamur. Duit sebanyak itu seharusnya bisa digunakan untuk mendirikan 1 atw 2 pabrik yg bisa menyerap tenaga kerja dinegeri ini, atw untuk membangun jembatan didaerah2 terpencil, atw bisa juga untuk membangun sekolah khusus rakyat miskin agar generasi penerus bangsa ini mempunyai masa depan yg lbh baik lgi. Klo bukan negara dan pemerintah yg mengopeni atww yg memperdulikan rakyat jelata itu lalu siapa lagi. Apakah kita akan terus berharap dan mengemis kpda negara lain. Malu donk kpda diri sendiri. Kita hidup dinegara yg kata kaya akan sumber daya alam. Tetapi rakyatnya menjadi pengemis. Seharus pemerintah dan petinggi bangsa ini harus bisa lbh perduli lagi kepda nasib rakyatnya. Atw apakah memang negara ini yg sudah kehabisan stok pemimpin yg cerdas bijaksana, yg lbh perduli akan kesejahteraan rakyatnya, entahlah. Hanya tuhan lah yg tahu.
Pemerintah mengatakan menaikan harga bbm demi kepentingan rakyat. Lalu apakah membeli pesawat dengan harga 6 miliyar lbh juga demi rakyat. Atw ini adalh dalil konyol dri para petinggi negri ini. Mencabut subsidi bbm, dan uang subsidi itu lalu digunakan untuk membeli pesawat. Dan kemudian mengatakan bahwa keuangan negara akan jebol klo bbm tidak dinaikkan. Entahlah. Hanya mreka yg tau. Yg jelas presiden esbeye sudah berani mengambil resiko mempertaruhkan kesejahteraan rakyatnya hanya untuk sebuah pesawat jet bisnis.
SUNGGUH TERLALU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar